Review ECU Aracer RC Mini 4C di Yamaha NMax. Gampang Settingnya Bro!

otomekanik.ID – Aracer RC Mini 4C kini tersedia untuk Yamaha NMax. ECU stand alone ini mengambil prinsip-prinsip dasar dari setting di karburator. Gak heran kalo ECU ini jadi gampang disetting. Ini review-nya bro.

DAYA TARIK ECU ARACER RC MINI

Pertama tentu harga dari Aracer RC Mini 4C ini dijual dengan harga Rp 2,7 juta. Kode 4C ini merupakan singkatan dari 4 Channel yang artinya ada 4 pengaturan pada ECU stand alone ini yang terbagi menjadi switch A, B, C dan D dengan angka 0-9.

Switch A merupakan pengaturan untuk waktu pengapian. Dengan 0 sebagai standar (base) dan angka 1-5 mewakili penambahan derajat waktu pengapian 1°- 5° dari kondisi base. Sedangkan angka 9, 8, 7 dan 6 merupakan penurunan derajat pengapian per 2°. Jadi kalo di klik angka 9, waktu pengapian akan turun menjadi -2°, lalu angka 8 menjadi -4°, begitu seterusnya.

Kesimpulannya, pengaturan switch A ini dapat menaikan waktu pengapian hingga 5° dan menurunkan hingga 8° dari kondisi base. Tujuannya tentu untuk menyesuaikan dengan rasio kompresi dinamis dan kadar oktan di bensin.

Lalu switch B merupakan pengaturan untuk menaikan jumlah bensin yang disemprotkan dalam satuan persentase (%) untuk keseluruhan rentang RPM dan posisi throttle. Kalo di karbu, seperti setting spuyer main jet bro.

Untuk angka 0 tetap sebagai base, lalu  angka 1 – 5 akan menambah jumlah semprotan bensin sebanyak 5% setiap klik angka. Jadi total penambahan bensin hingga 25%. Sedangkan angka 9, 8, 7 dan 6 kembali digunakan untuk mengurangi jumlah semprotan bensin, seperti 9 artinya -5%, lalu 8 dengan -10% dan seterusnya sampe angka 6 di -20%.

Switch C berfungsi untuk mengatur jumlah semprotan bensin saat Throttle Position Sensor (TPS) atau gas diplintir gak lebih dari 30%. Mirip setting Pilot Jet bro, biar bisa tetap irit saat gak pengen ngebut.

Bedanya dengan switch B, pengaturan setiap klik mewakili angka 3%. Jadi angka 1 – 5, untuk penambahan hingga +15% dari kondisi standar atau base (0). Sedangkan 9 hingga 6 akan mengurangi hingga -12%.

Switch D lebih diperuntukan untuk pengaturan jumlah bensin saat gas poll atau posisi TPS diplintir lebih dari 70% ke atas. Untuk penambahan serupa dengan switch C dengan +3% atau -3% setiap klik. Kalo ini mirip  setting Needle Jet.

Salah satu yang bikin ECU stand alone RC Mini ini menarik adalah, hadirnya fitur Temperature dan Baro Compensation. Jadi ECU akan menyesuaikan suhu dan tekanan udara sekitar agar semprotan bensin di injektor dan waktu pengapian tetap optimal. Artinya, gak masalah tuh buat riding di pegunungan dengan tekanan udara lebih rendah dan suhu dingin.

NAIK 1,6 HP DAN 1,3 NM

Kebetulan sebelum memasang ECU Aracer RC Mini 4C, otomekanik.ID sempat men-dynotest Nmax non-bore up dengan ECU standar Yamaha ini dengan tenaga puncak mencapai 9,59 HP @ 7.800 rpm dan torsi 12 Nm @ 5.400 rpm. Setelah disetting dengan mengacu pada AFR 11,9 : 1 dibuat serata mungkin, hasilnya mencapai 11,18 HP @ 8.300 rpm dan torsi 13,3 Nm @ 5.400 rpm. Lumayan lah bro, naik lebih dari 1,6 HP tanpa ubahan mekanikal lainnya. Kalo kondisi Yamaha Nmax standar ting…ting… katanya berkisar di 8 HP.

    Komposisi untuk spesifikasi mekanikal kem MOTO1, klep hollow BRT ukuran standar, porting inlet dan exhaust by Gas Motor, setang piston Vixion, filter udara Ferrox, Velocity Stack dan knalpot free flow AMP, posisi Switch A di +1, Switch B di +2, Switch C di -1 dan Switch D di +2.

Setelah lebih dari 2 pekan digunakan, impresinya cukup positif. Mapping Aracer RC Mini terasa halus menyerupai mapping ECU standar, tapi terasa lebih bertenaga disetiap rentang RPM. Hal ini sangat wajar lantaran AFR berada di posisi performa maksimal.

Untuk panel instrumen Yamaha Nmax ABS, semuanya bekerja normal. Fuel Consumsion Real Time bekerja normal, meski selisihnya menjadi lebih jauh lantaran ECU Aracer RC Mini ini mengadopsi sistem terbuka (open loop) sehingga jumlah bahan bakar tidak lagi dikoreksi kembali oleh ECU.

Performa saat diajak turing ke daerah dingin pun tetap stabil dan tidak mengalami penurunan tenaga. Starter di pagi tetap mudah meski kondisi suhu dingin sekalipun. Tapi RPM saat idle kini menjadi 1.850 rpm dari sebelumnya dikisaran 1.600 – 1.700 rpm. Otomatis ini turut menyumbang konsumsi BBM yang lebih boros.

Sebagai pembanding, konsumsi BBM dengan ECU standar dipadu dengan Open Looper Speed Spark saat digunakan turing Jakarta – Pelabuhan Ratu, bisa mencapai 40,3 km/l, sekarang menjadi 29,36 km/l dengan metode full to full – MID di 34,0 km/l. Meski data ini gak apple to apple karena kondisi lalin yang cukup padat di Bekasi hingga karawang serta guyuran hujan di sepanjang perjalanan.

Tapi intinya, dengan AFR hingga 11,9 : 1 yang sangat jauh dari kondisi ideal di 14 – 14,7 : 1, jelas akan mempengaruhi konsumsi BBM. Tinggal sesuaikah dengan kebutuhan tenaga mesin di motor? Silahkan bro-bro nilai sendiri…

Penulis : Dhany Ekasaputra

FOTO : Dhany Ekasaputra

Facebook Comments
share it...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on Tumblr