Modifikasi di Mesin Ternyata Bikin Usia Pakai Oli Mesin Lebih Singkat, Ini Sebabnya Bro

otomekanik.ID – Modifikasi di mesin memang paling asyik buat ningkatin performa mobil  atau motor bro. Tapi namanya meningkatkan, ada juga dampak buruknya. Usia pakai oli mesin jadi lebih singkat.

Kok bisa ya? Apa hubungannya nih, antara modifikasi komponen mesin dengan usia pakai oli mesin? Simak penjelasannya bro.

Analoginya, elo pasti pernah ngoprek mesin, trus tangan kotor kena oli kan? Paling cepet ngilangin lapisan oli di tangan ya pake bensin, plus sabun cuci setelah itu.

(BACA JUGA: Jangan Ganti Oli Mesin Setiap 10.000 Km Kalo Elo Tinggal di Jakarta, Ini Sebabnya Bro)

Artinya, pelumas akan lebih cepat rusak kalo ada unsur bensin. Itu pun terjadi saat bensin menyusup ke ruang oli dan terjadi Fuel Dilution (FD).

So, gimana caranya oli bercampur bensin saat di dalam mesin?

Memang saluran bensin dan oli mesin terpisah oleh susunan ring piston. Tapi, namanya komponen bergerak dengan material logam, tentu punya celah.

(BACA JUGA: Bahaya Bro, Jangan Pasang Sembarangan 10 Aksesori Ini di Mobil!)

Nah, melalui celah inilah unsur bensin yang bisa merusak kualitas pelumas menyelinap. Perlahan tapi pasti akan bercampur dengan material oli di bawahnya.

Kalo elo modifikasi komponen mesin, otomatis jumlah bahan bakar yang masuk ke dalam mesin akan meningkat.

Modifikasi mesin juga bermaksud supaya gesekan antar komponen berkurang sehingga tenaga mesin meningkat. Dan ternyata, ini ada konsekuensinya bro.

Inilah daftar modifikasi tersebut bro.

1. Ganti Kem High-performance

Camshaft atau kem high-performance sering disebut dengan kem racing. Kem jenis in punya durasi bukaan katup yang lebih lama dari kem standar.

Dengan bukaan lebih lama, otomatis jumlah BBM yang masuk menjadi lebih banyak. Ditambah waktu kompresi yang makin singkat, bikin pembakaran nggak sempurna kian rentan terjadi.

Makin diperparah kalo elo pakai bensin oktan tinggi. Bakal makin banyak bensin yg nggak kebakar sehingga lebih banyak lagi yg lolos ke crankshaft.

Apalagi kalo elo nggak menyesuaikan waktu pengapian. Oli mesin makin cepet rusak deh.

(BACA JUGA: Kulik Mesin Wuling Confero S, Benar Nggak Ia Pakai Mesin Chevrolet Spin?)

2. Ganti Piston Forged

Material piston yang lebih padat (forged) ketimbang jenis cast piston, membuat celah antar komponen perlu dibuat lebih besar.

Dalam kondisi mesin dingin, membuat BBM kian banyak yang lolos ke sistem pelumas mesin karena material logam belum memuai.

Apalagi kalo elo pake piston buat kompetisi yang kerap menggunakan single ring untuk mereduksi gesekan.

Sekat untuk memisahkan bensin dan oli pun semakin minim bro. Kebayang kan kalo kondisi ini terjadi setiap pagi hari.

(BACA JUGA: Kelebihan Daya Angkut Sering Jadi Sebab Kecelakaan, Ini Payload Mobil Keluarga Indonesia)

3. Ganti Knalpot Free Flow

Knalpot minim hambatan akan membuat kinerja mesin kian ringan, terutama di putaran atas. Tapi dengan saluran gas buang yang lebih lancar, otomatis memerlukan suplai bahan bakar yang lebih banyak.

Karakter knalpot yang asyik di putaran tinggi membuat tenaga bawahnya akan turun. Wajar kalo pengendara perlu membuka throttle body atau skep lebih besar dari biasanya, untuk memperoleh akselerasi serupa dalam kondisi ‘stop and go’.

Pembakaran nggak sempurna akan kembali terjadi bro. Ciri-cirinya gampang, asap knalpot sering bikin mata pedes.

(BACA JUGA: Toyota Avanza Bawa Tujuh Penumpang Tabrakan Dengan Bus, Inilah Tips Berkendara Dengan Muatan Penuh)

4. Ganti ECU Stand Alone

Produsen mobil dan motor saat ini telah menggunakan komputer mesin (ECU) dengan sistem close loop (sistem tertutup).

Jadi mesin dilengkapi sensor Oksigen (O2) di knalpot untuk mendeteksi campuran BBM dengan udara, apakah sudah sesuai?

Jika belum, maka ECU akan memerintahkan agar semprotan bensin diperbanyak atau dikurangi sesuai kebutuhan.

Nah.. kalo pake ECU stand alone, umumnya mengadopsi sistem terbuka alias Open Loop. Dengan nggak ada penjaga atau non-akktifnya sensor O2, otomatis tenaga mesin bisa selalu di setup optimal.

Akibatnya, kemungkinan campuran menjadi tidak seimbang pun kerap terjadi, alias rich. Lagi-lagi bahan bakar diperbanyak kan?

(BACA JUGA: Banyak Kasus Mobil Terbakar di Jalan, Cermati Faktor Penyebab Mobil Bisa Terbakar Sendiri)

5. Meningkatkan Rasio Kompresi

Ini juga menjadi salah satu cara meningkatkan performa mesin. Dengan kompresi (tekanan) yang lebih tinggi membuat udara dan bensin kian homogen sehingga mampu menghasilkan daya ledak yang lebih besar.

Tapi tekanan tinggi juga berdampak pada ring piston yang kian sulit untuk menjaga agar bensin tidak menyusup masuk ke crankshaft.

Apalagi jika ring piston mulai melemah, kian parah deh pencemaran bensin di pelumas atau sering disebut juga dengan Fuel Dilution (FD).

Penulis: Dhany Ekasaputra

Foto: www.panoramio.com, www.motorauthority.com

share it...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on Tumblr